Dalam beberapa bilangan hari, kesepian
mendinginkan suhu kamar ku yang di selib beberapa kreatifitas sederhana
ini. Aku lelah oleh wajah-wajah yang suram itu. Sesekali aku
menumpahkan beberapa kepalsuan mereka di atas kertas kusam sambil jari
jemari ku merayu piano yang mengerti ku bisa mencairkan kebekuan. Setiap
kali aku mendengarkan nyanyian burung & perbincangan musim semi,
disaat seperti itu bebeapa dogma nenek moyangnya seakan membangunkan ku
dari
meditasi purba. Kesunyian memiliki tangan yg lembut, namun dengan
jari-jarinya yg kuat, ia merenggut hati & membuatnya nestapa
indahnya perih, semuanya menjelma menjadi rahasia bisu di pelukan bumi
hingga kita mencari ujung-ujungnya untuk disambung kembali & saat
itu tiba ketika kita bisa lahir kembali dari awal saat cinta tak pegang
kendali. Kita memiliki frekuwensi pikiran yg berbeda hingga nama mu
tinggal nama yg masih hidup dalam pikiran ku sembari memeluk bayang mu
atau bisa terobati dengan sungai lamunan bias dalam kata-kata mu yg
hancur berantakan. Engkau telah tanam mawar putih di hati ku, tapi di
sekeliling mawar itu engkau tumbuhkan duri & semak belukar. Di
tempat ini aku telah menguburkan hati mu.
"(Beberapa minggu kemudian)"
Ada tangan lain menuntun ku lebih dari yang ku tahu & menyambung kembali sayap-sayap ku yg patah. Hingga serentetan coretan ku putus dan bersambung lagi, semuanya akan
berubah karena tidak semua tangan bisa kau genggam & tidak semua
bahu juga bisa kau jadikan sandaran.
(Bukit Matahari, 17 okt)
By : ARDI LIKO
upl: Pae.com
0 komentar:
Posting Komentar