Sabtu, 18 Oktober 2014

Dalam beberapa bilangan hari, kesepian mendinginkan suhu kamar ku yang di selib beberapa kreatifitas sederhana ini. Aku lelah oleh wajah-wajah yang suram itu. Sesekali aku menumpahkan beberapa kepalsuan mereka di atas kertas kusam sambil jari jemari ku merayu piano yang mengerti ku bisa mencairkan kebekuan. Setiap kali aku mendengarkan nyanyian burung & perbincangan musim semi, disaat seperti itu bebeapa dogma nenek moyangnya seakan membangunkan ku dari meditasi purba. Kesunyian memiliki tangan yg lembut, namun dengan jari-jarinya yg kuat, ia merenggut hati & membuatnya nestapa indahnya perih, semuanya menjelma menjadi rahasia bisu di pelukan bumi hingga kita mencari ujung-ujungnya untuk disambung kembali & saat itu tiba ketika kita bisa lahir kembali dari awal saat cinta tak pegang kendali. Kita memiliki frekuwensi pikiran yg berbeda hingga nama mu tinggal nama yg masih hidup dalam pikiran ku sembari memeluk bayang mu atau bisa terobati dengan sungai lamunan bias dalam kata-kata mu yg hancur berantakan. Engkau telah tanam mawar putih di hati ku, tapi di sekeliling mawar itu engkau tumbuhkan duri & semak belukar. Di tempat ini aku telah menguburkan hati mu.

"(Beberapa minggu kemudian)"

             Ada tangan lain menuntun ku lebih dari yang ku tahu & menyambung kembali sayap-sayap ku yg patah. Hingga serentetan coretan ku putus dan bersambung lagi, semuanya akan berubah karena tidak semua tangan bisa kau genggam & tidak semua bahu juga bisa kau jadikan sandaran.

(Bukit Matahari, 17 okt)


By :  ARDI LIKO
upl: Pae.com

0 komentar:

Posting Komentar